Jumat, 01 Juli 2011

macam-macam gaya bahasa

MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)
1.      Klimaks Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat. Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.       Antiklimaks Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun. Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.      Paralelisme Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada barisatau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.      Antitesis Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa. Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.      Epizeuksis Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.      Tautotes Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.      Anafora Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis. Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi, Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.      Simploke Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulangkata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya. Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.
13.  Aliterasi Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh : Keras-keras kena air lembut juga.
14.  Asonansi Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya
15.  Anastrofatau InversiAdalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasisatau Preterisio Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18.  Asindeton Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan. Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa
19.  Polisindeton Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung. Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20.  Kiasmus Adalah gaya bahasayang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya. Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca. Contoh : Risalah derita yang menimpa ini
22.  Eufimisme Adalah gaya bahasapenghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan. Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23.  Litotes Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24.  Histeron Proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar. Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25.  Pleonasme Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului. Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26.  Tautologi Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27.  Parifrasis Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya. Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28.  Prolepsis atau Antisipasi Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29.  Erotesis atau Pertanyaan Retoris Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30.  Silepsis dan Zeugma Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32.  Hiperbola Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan. Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33.  Paradoks Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34.  Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35.  Asosiasi atau Simile Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam.
36.  Metafora Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama. Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37.  Alegori adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam. Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38.  Parabel Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya. Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39.  Personifikasi Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40.  Alusi Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa. Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42.  Epitet Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43.  Sinekdoke -Pars Pro Tato Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya -Totem Pro Parte Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau
44.  Metonimia Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45.  Antonomasia Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46.  Hipalase Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47.  Ironi Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48.  Sinisme adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49.  Sarkasme Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52.  Antifrasis Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya. Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhorma
53.  Pun atau Paronomasia Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi. Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54.  Simbolik Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55.  Tropen Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang. Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56.  Alusio Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan. Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi
57.  Interupsi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58.  Eksklmasio Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi. Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59.  Enumerasio Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60.  Kontradiksio Interminis Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu. Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62.  Okupasi Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63.  Resentia Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan. Contoh : “Apakah ibu mau….?”

Jumat, 27 Mei 2011

desain pembelajaran menulis pantun

DESAIN PEMBELAJARAN
I.                   Konsep (Kompetensi menulis sastra,  menulis pantun)
          Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang akrab dengan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari siswa pasti sering mendengar orang mengucapkan pantun. Pantun berfungsi untuk mengungkapkan maksud atau pikiran secara tidak langsung. Jika dilihat dari isinya, ada pantun jenaka, nasihat, cinta, duka, teka-teki, dan sebagainya. Pantun terdiri atas sampiran, yang dilukiskan pada baris 1 dan 2; serta isi pantun, yang dilukiskan pada baris 3 dan 4. Persamaan bunyi dan jumlah suku kata merupakan keindahan pantun.
Syarat-syarat pantun adalah sebagai berikut.
1. Setiap bait terdiri atas 4 baris.
2. Setiap baris terdiri atas 8–12 suku kata.
3. Bunyi akhir setiap baris bersajak a b a b.
4. Baris 1 dan 2 merupakan sampiran
5. sedangkan baris 3 dan 4 merupakan isi pantun.
Contoh pantun
Tanam melati di rama-rama                         
Ubur-ubur sampingan dua
Biarlah mati kita bersama
Satu kubur kita berdua

 Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik terkenang jua

Ke mana kancil akan dikejar
Ke dalam pasar cobalah cari
Ketika kecil rajin belajar
Sesudah besar senanglah hati
(sumber: buku bahasa dan sastra indonesia 1 smp dwi hariningsih dkk dan buku bahasa dan sastra indonesia 1 smp maryati-sutopo)
1.         Model
                      NHT merupakan pendekatan struktural pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan oleh Spencer Kagan, dkk (Ibrahim, 2000:25). Meskipun memiliki banyak persamaan dengan pendekatan yang lain, namun pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. NHT adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas (Ibrahim, 2000:28).
          Menurut Kagan (2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran.
          Model NHT memiliki kelebihan diataranya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, mampu memperdalam pamahaman siswa, menyenangkan siswa dalam belajar, mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, mengembangkan rasa ingin tahu siswa, meningkatkan rasa percaya diri siwa, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan keterampilan untuk masa depan.

 Sintaks NHT dijelaskan sebagai berikut:

a. Penomoran
                      Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru mengelompokan  siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.

b. Pengajuan Pertanyaan
                      Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.

c. Berpikir Bersama
                      Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan.

d. Pemberian Jawaban
                      Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

Sistem Sosial
                      Model numbered head together (NHT) ini diorganisasikan secara terstruktur moderat, di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan kelompok diskusi dan membimbing mekanisme interaksi belajar. Interaksi antar siswa digalakan oleh pengajar. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan siswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran.

Prinsip Pengolahan/reaksi
                      Dalam model ini guru berfungsi sebagai pembimbing siswa. Secara terinci, dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya:
1.      Mengelompokan siswa, dalam satu kelompok terdapat anak yang pintar
2.      Memberikan pertanyaan tentanng materi
3.      Membimbing berpikir bersama
4.      Memberikan kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan

Sistem Pendukung
Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus.

Dampak Instruksional dan Pengiring
          dampak instruksional dan pengiring dari model ini, dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Oval: Model NHT
Keutuhan dan produktivitas kelompok
 
 











             dampak insrtuksional
--------  dampak pengirinng
MODEL NHT
Kegiatan pengajar
Tahapan pokok
Kegiatan siswa
Guru mengelompokan siswa
Penomoran
Siswa berkelompok
Guru mengajukan pertanyaan
Pengajuan pertanyaan
Siswa memahami pernyatan dari guru
Guru membimbing siswa yang sedang berdiskusi untuk memecahkan masalah
Berpikir bersama
Siswa berpikir bersama untuk menjawab pertanyaan dari guru
guru menyebut salah satu nomor
Pemberian jawaban
siswa dari tiap kelompok yang nomornya disebut mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan.



II.                Desain pembelajaran

Ø  Aspek            : menulis
Ø  SK                 : 8. mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui                                    pantun dan dongeng
Ø  KD                : 8.1 menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun
Ø  Indikator       :
o   Siswa dapat mengetahuai pantun
o   Siswa dapat menemukan ciri-ciri pantun
o   Siswa dapat menagkap isi pantun
o   siswa dapat menulis pantun  
Ø materi ajar
-          hakikat pantun.
Pantun adalah salah satu jenis puisi lama.
-          contoh pantun
                      Pulau Pandan jauh di tengah
                      Di balik pulau angsa dua
                      Hancur badan dikandung tanah
                      Budi baik terkenang jua

-          syarat-syarat pantun
1. Setiap bait terdiri atas 4 baris.
2. Setiap baris terdiri atas 8–12 suku kata.
3. Bunyi akhir setiap baris bersajak a b a b.
4. Baris 1 dan 2 merupakan sampiran
5. sedangkan baris 3 dan 4 merupakan isi pantun.

Ø  model pembelajaran
model pembelajaran NHT (numbered head together)

Ø  bahan / media
papan tulis, alat tulis

Ø  sumber
buku pelajaran smp 7  bahasa dan sastra indonesia

Ø  pengaturan ruang kelas
            Ruang kelas dibuat nyaman bagi siswa dan guru untuk proses belajar mengajar. Pada saat berpikir bersama siswa saling berkelompok membuat kelompok diskusi kecil siswa. Dalam satu kelompok siswa berhadapan supaya mempermudah dalam  berpikir bersama bertukar pikiran.
Ø  prosedur pelaksanaan

pertemuan pertama
No
Kegiatan
Metode/ teknik/tahapan pokok
Waktu
1

kegiatan awal
a.       guru dan siswa bertanya jawab tentang kondisi pada hari itu
b.      guru menjelaskan tujuan pembelajaran yaitu siswa diharapkan dapat menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun

Tanya jawab

10 menit
2
Kegiatan inti 
a.       siswa dan guru bertanya jawab mengenai materi pantun sehingga guru tahu seberapa besar pemahaman terhadap materi yang akan disampaikan
b.      siswa mengamati penyampaian materi pantun yaitu hakikat pantun dan syarat-syarat pantun
c.       siswa dan guru bertanya jawab mengenai materi yang belum dipahami
d.        siswa berkelompok, setiap kelompok  beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5
e.       setiap siswa diberi nomor masing-masing untuk mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan secara individual
f.       guru memberikan sebuah pertanyaan tentang hakikat pantun dan tugas membuat pantun

g.      siswa menulis pantun  dan saling berdiskusi dengan anggota kelompoknya

h.      siswa ditunjuk secara acak berdasarkan penomoran pada masing-masing kelompok untuk membacakan hasil pekerjaannya
i.        siswa dan guru bertanya jawab memadukan hasil pekerjaan siswa dengan teori yang telah disampaikan


Metode ceramah dan tanya jawab,




Tahap pengelompokan



Tahap mengajukan pertanyaan
Tahap berpikir bersama
Tahap pemberian jawaban

60 menit
3
Penutup
a.         siswa dan guru mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran pada hari itu
b.         siswa mendapat tugas untuk berlatih menulis pantun di rumah



Refleksi

Penugasan

5 menit


Pertemuan kedua
1
Kegiatan awal
a.         siswa dan guru bertanya jawab tentang kondisi pada hari itu
b.         siswa ditanya guru apakah telah berlatih menulis pantun berdasarkan penugasan pada pertemuan yang lalu
c.         siswa mendengarkan penjelaskan guru bahwa kegiatan selanjutnya yaitu membahas tentang kesulitam-kesulitan dalam menulis pantun


Tanya jawab



ceramah
10 menit

2
Kegiatan inti
a.         siswa  mengemukakan kesulitannya dalam menulis pantun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan siswa ketika pembelajaran dan penugasan yang lalu
b.         siswa dan guru mendiskusikan dan menyimpulkan hambatan-hambatan dalam menulis pantun
c.         siswa mendapat penjelasan dari guru tentang bagaimana mengatasi hambatan dan kesulitan siswa dalam menulis pantun
d.        siswa mendapat penjelasan dari guru tentang teknik yang dapat diterapkan untuk mempermudah siswa dalam menulis pantun
e.         siswa berlatih menulis pantun kembali berdasarkan kelompok pada pertemuan yang lalu
f.          siswa yang nomornya di panggil oleh guru maju ke depan untuk menulis hasil pekerjaanya

demonstrasi



diskusi


ceramah





demonstrasi


NHT
65 menit
3
Penuttup
a.         siswa dan guru mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran pada hari itu
b.         siswa mendapat ttugas untuk berlatih menulis pantun

Refleksi

penugasan
5 menit


Ø  penilaian
penilaian hasil
-          teknik                        : tes tertulis
-          bentuk instrumen      : tes uraian
-          soal instrumen           :
1.      tulislah pantun yang sesuai dengan syarat-syart pantun dan didiskusikanlah dengan kelompok masing-masing!
            Tabel kriteria penilaian tiap aspek
no
Aspek yang dinilai
Skor maksimal
1
Pilihan kata atau diksi
10
2
Jumlah baris tiap bait
20
3
persajakan
20
4
Jumlah suku kata tiap baris
20
5
Adanya sampiran dan isi
20
6
Isi pantun
10
Jumlah
100


Nilai akhir = perolehan skor                      X         100%   =. . . .
                  Skor maksimal            

Daftar Pustaka
Harininingsih, Dwi. Dkk.2008. Membuka Jendela Ilmu Pengetahuan Bahasa Dan Sastra Indonesia 1 SMP/MTS. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan    Nasional.
Hidayah, nur siti. 2009. Peningkatan Keterampilan Menulis Panttun Dengan Model           Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Dan Teknik Pancingan Kata             Kunci   Pada    Siswa Kelas VII A SMP PGRI 3 Boja Kabupaten Kendal Tahun       Ajaran             2009/2010.      Skripsi. unnes
Maryati dan Sutopo. 2008. Bahasa Dan Sastra Indonesia 1 Untuk SMP/MTS Kelas VII.     Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Winataputra, Udin s. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Direktorat          Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.